•  
  •  
 
Bulletin of Monetary Economics and Banking

Document Type

Article

Abstract

Mikrostruktur PUAB Rupiah O/N dipengaruhi perubahan stance kebijakan moneter dari kontraktif menjadi ekspansif selama periode 2001 s.d. 2003 termasuk perubahan kebijakan Fasbi menjadi “dual windows” dan pembedaan rate Fasbi pagi dan sore. Dibandingkan sebelumnya, struktur pasar yang bersifat loose oligopoly lebih tersegmentasi dengan dominasi yang berubah sesuai kondisi pasar dan internal bank. Bank memelihara clientile relationship dengan counterparty tertentu.Perubahan mikrostruktur PUAB mempengaruhi price formation yang tercermin dari pergeseran saat pembentukan harga dan lebih sensitifnya suku bunga terhadap masuknya informasi baru meski volume trasaksi relatif tetap. Perilaku harga intraday lebih volatile terutama sore hari, saat 40% volume transaksi terkonsentrasi. Dari model perilaku harga, suku bunga instrumen moneter seperti Fasbi semakin berperan sebagai reference rate bagi pasar sehingga terbesar pengaruhnya terhadap harga. Perubahan Fasbi menjadi dual windows, perubahan tenor menjadi O/N serta pembedaan suku bunga pagi dan sore secara simultan meningkatkan volatilitas harga dengan persistensi efek yang lebih rendah dibanding sebelumnya. Selain itu, volume transaksi dan shock suku bunga PUAB periode sebelumnya menimbulkan volatilitas yang besar pada hari berikutnya dengan persistensi efek yang relatif rendah. Secara keseluruhan, perubahan kebijakan menyebabkan harga PUAB lebih sensitif terhadap shock.Keterbatasan data menyebabkan belum dapat dikemukakan hubungan spillovers yang konsisten antara pasar Rupiah (PUAB O/N) dan pasar valas maupun pasar saham. Meski demikian, dari model spillovers dapat ditemukan hubungan nilai tukar USD/IDR yang dipengaruhi PUAB O/N, Fed Fund, SIBOR dan kurs sendiri. Sementara harga saham dipengaruhi hanya oleh nilai tukar USD/IDR saja dengan koefisien yang relatif kecil. Menurut survey, bank mengutamakan informasi PUAB dalam keputusan transaksi PUAB Rupiah, kecuali sebagian bank asing dan campuran yang memperhitungkan informasi pasar valas dan modal.Implikasinya, controllability otoritas moneter atas suku bunga PUAB dipengaruhi mikrostruktur pasar, informasi dan pengendalian instrumen moneter yang menjadi reference rate pasar. Saat ini, instrumen tersebut adalah Fasbi. Struktur pasar yang tersegmentasi menghambat pembentukan harga yang efisien sehingga perlu diperbaiki melalui pengaturan dan penataan kembali fungsi dan mekanisme penggunaan instrumen moneter yang menjadi reference pasar. Untuk menjaga stabilitas harga, disarankan: penataan kembali tenor, rate dan mekanisme perdagangan Fasbi seperti pengembalian single window. Selain itu, timing penyampaian informasi kebijakan perlu dilakukan pagi hari sebelum transaksi ramai agar pengaruhnya besar dalam pembentukan harga. Transparansi dan konsistensi komunikasi informasi kepada seluruh pasar harus dijaga agar tidak terjadi fluktuasi harga yang berlebihan. Ke depan diharapkan aktivitas transaksi antar bank meningkat dan animo penempatan pada bank sentral secara berlebihan dapat dikurangi, serta pembentukan harga yang lebih efisien dapat dicapai. Berfungsinya pasar secara baik (well functioning) akan mendukung PUAB sebagai target operasional kebijakan moneter.

First Page

77

Last Page

125

Creative Commons License

Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License

Country

Indonesia

Affiliation

Bank Indonesia

Check for updates

Share

COinS