•  
  •  
 
Bulletin of Monetary Economics and Banking

Document Type

Article

Abstract

Krisis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang menimpa Indonesia sejak bulan Juli 1997 merupakan sebuah akumulasi dari berbagai permasalahan yang terjadi baik permasalahan ekonomi, moneter, maupun permasalahan sosial dan politik. Oleh sebab itu, krisis nilai tukar tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan teori ekonomi semata. Teori ekonomi mengatakan nilai tukar akan membaik kembali bila supply bertambah dan demand terhadap valuta asing berkurang. Namun, cukup gencarnya bantuan dana luar negeri yang masuk baik dalam rangka IMF, World Bank, ADB, dan lainnya untuk menambah supply, serta berkurangnya likuiditas rupiah akibat kebijakan moneter yang ketat untuk mengurangi demand, tidak berhasil meredam laju depresiasi nilai tukar yang cenderung tak terkendali. Dikarenakan banyaknya faktor yang terkait banyak ahli yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sangat fluktuatif. Hal tersebut dikarenakan model-model penentuan nilai tukar yang digunakan selama ini, tidak satu pun diantaranya yang memasukan faktor-faktor non-ekonomis secara tuntas dalam perhitungannya.Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah pendekatan sistem dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang terkait dan memformulasikannya sebagai model penentuan nilai tukar valuta asing. Adapun metoda yang digunakan adalah pendekatan analogi. Pemilihan metoda tersebut merupakan sebuah endapan pemikiran penulis tentang adanya inter-disiplin dalam ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan prinsip-prinsip dalam pendekatan analogi, maka model penentuan nilai tukar valuta asing mempunyai kesamaan fenomena dan struktur dengan kurva uji tarik material teknik. Selanjutnya dari hasil analisa keterhubungan dihasilkan tiga daerah penentuan nilai tukar valuta asing yaitu daerah sebelum krisis (Januari - Juli 1997), daerah transisi/awal krisis (Juli - Agustus 1997), dan daerah krisis (Agustus 1997 - sekarang).Setelah dilakukan simulasi dan pengujian statistik dihasilkan sebuah kesimpulan bahwa variabel yang sangat berpengaruh pada daerah sebelum krisis adalah sistem nilai tukar dan mekanisme pasar (SMP) sebesar 81.2%. Sedangkan pada daerah krisis variabel-variabel yang sangat berpengaruh adalah resiko keuangan, resiko politik, dan resiko ekonomi masing-masing sebesar 39.4%, 28% dan 19%. Hasil tersebut memberikan penjelasan bahwa pada saat sebelum krisis, stabilitas nilai tukar yang terjadi bersifat artifisial artinya dikondisikan/direkayasa oleh kebijakan pemerintah, sedangkan pada daerah krisis instabilitas nilai tukar bersifat imajinatif maksudnya bahwa laju depresiasi yang sangat cepat dan fluktuatif lebih diakibatkan oleh hal-hal yang bersifat ekpektasi atau kekhawatiran (krisis kepercayaan) bukan didasarkan atas kebutuhan riil.

First Page

75

Last Page

96

Creative Commons License

Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License

Country

Indonesia

Affiliation

Bank Indonesia

Check for updates

Share

COinS