•  
  •  
 
Bulletin of Monetary Economics and Banking

Document Type

Article

Abstract

Ultimate target kebijakan moneter di Indonesia diantaranya adalah kestabilan harga dan kemantapan neraca pembayaran. Untuk mendapai tujuan tersebut, selama ini kebijakan nilai tukar Rupiah selalu diarahkan untuk menjaga keseimbangan internal dan eksternal, atau dengan kata lain, nilai tukar digunkaan sekaligus sebagai alat moneter (kestabilan harga) dan alat daya saing (mendorong ekspor).Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara nilai tukar dengan keseimbangan internal (yagn diwakili oleh inflasi) dan keseimbangan eksternal (yang diwakili oleh ekspor dan impor nonmigas), serta sekaligus juga untuk mengetahui seberapa besar efektifitas penerapan nilai tukar mencapai keseimbangan dalam periode 1983-1997 dan menelaah volatilitas nilai tukar rupiah setelah dilepas ke mekanisme pasar (free floating). pengujian dilakukan dengan menggunkan tes kausalitas Granger, uji variance decomposition dan impulse response function, uji Johansen Cointegration (model Natrex), serta uji regresi.Hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa kebijakan nilai tukar yang diarahkan untuk menjaga keseimbangan internal dan eksternal sulit mencapai hasil maksimal, dalam arti mengandung trade off bagi otoritas moneter. Trade off dapat dikurangi melalui penurunan sensitivitas nilai tukar terhadap inflasi (pengurangan import content dalam struktur industri nasional) dan penurunan sensitivitas terhadap ekspor non migas (pembenahan iklim usaha dan peningkatan efisiensi/kapasitas produksi ekspor). Selanjutnya, hasi penelitian menunjukkan bahwa otoritas moneter seharusnya memprioritaskan tugas pada pemeliharaan stabilitas harga dibanding pada peningkatan ekspor, yang pada gilirannya mempertegas pandangan bahwa sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating) merupakan alternative sistem niali tukar yang akomodatif positif bagi rezim fixed dan flexible untuk memelihara ultimate target stabilitas harga (inflasi).Perhitungan berdasarkan NATREX (Naturan Real Exchange Rate) memberikan wawasan bahwa dalam jangka panjang beberapa varabel fundamental secara bersama-ama signifikan mempengaruhi nilai tukar riil di Indonesia. Dalam periode tertentu, NATREX sebagai pencerminan faktor fundamental mampu menjelaskan pergerakan nilai tukar riil, namun pada periode mengambang bebas (free floating) terlihat adanya perbedaan arah antara NATREX dengan nilai tukar riil (REER). Ini secara tidak langsung menyiratkan bahwa dalam kurun waktu tersebut gerakan niali tukar riil juga dipengaruhi faktor di luar fundamental. pada prinsipnya, target riil semakin sulit dicapai dalam era free floating, sehingga selama band nilai tukar tidak digunakan, maka intervensi otoritas moneter secara berkala ke pasar masih diperlukan, dengan syarat mempertimbangkan ketepatan timing, sifat, dan batas acuan intervensi yang didukung keberadaan Market Intelligence Unit. Selain itu, untuk meredam gejolak nilai tukar dan inflasi, tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter dan nilai tukar semata, tetapi juga harus secara konsiten melaksanakan kebijakan susulan seperti kebijakan fiskal, restrukturisasi sektor keugnan dan reformasi struktur ekonomi (economic structural reform).

First Page

85

Last Page

122

Creative Commons License

Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License

Country

Indonesia

Affiliation

Bank Indonesia

Check for updates

Share

COinS